Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2011

PERTEMUAN DALAM TUNTUNAN LANGKAH


Mungkin takdir yang menuntun langkahku hingga sampai ke tempat ini. Hingga kini kutlah menjadi bagian dari keluarga besar sekolah ini, salah satu sekolah ternama di kota ini. Kebanggaan dan sedikit beban yang kurasa. Ya, aku bangga lantaran aku bisa ditrima bergabung di keluarga ini dan aku yakin masih banyak orang diluar sana yang ingin menjadi keluarga besar sekolah ini. Tapi sejalan dengan itu aku juga merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut membesarkan sekolah ini, setidaknya dengan menyumbangkan prestasi melalui hobi menulis ku. Tapi yang paling penting sekarang, aku harus melupakan beban itu dan menggantinya dengan ketulusan berbuat agar segala yang aku perbuat lebih bermakna dan lebih maksimal.

Beberapa bulan setelah resmi menjadi bagian sekolah ini, kami di perkenalkan dengan berbagai ekstra, dan tibalah saatnya untuk kami memilih menempatkan diri di bagian mana. Kebimbangan yang begitu melanda ku saat itu. Aku bingung memilih untuk bergabung dengan ekstra KIR yang telah ku geluti sejak duduk di bangku SMP, atau mengembangkan hobi menulisku di Ekstra jurnalistik. Berbagai cara kulakukan untuk menentukan pilihanku, bertanya sana sini, meminta pendapat. Tapi ujung-ujungnya aku membulatkan tekat ku untuk masuk ke dunia baru, dunia jurnalistik. Ketika aku memilih dunia ini, aku sedikit bimbang, begitu banyak yang ingin bergabung, tetapi yang bisa menjadi anggota hanya 30 orang. Sleksi harus dilewati untuk menyaring sekian banyak yang ingin bergabung hingga menyusut menjadi 30 orang. Syukurnya aku diterima menjadi anggota ekstra itu.
Hari pertama ekstra, kami diperkenalkan dengan bidang-bidang yang ada di ekstra itu. Begitu banyak dan hampir semua aku sukai. Mulai dari menulis, foto, hingga film semua ada dalam satu ekstra. Kini menjadi bagian dari salah satu ekstra besar di sekolah ini menjadi kebanggaan baru bagi ku. Hari itu juga kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan kording setiap 3 minggu sekali. Dan saat itu lah aku pertama kali mengenalnya, terang saja aku satu kelompok dengannya. Saat itu tak ada yang istimewa bagi ku. Yang ku tau saat itu ia sedang sibuk bermain game dengan laptopnya. Diskusi antara kami sedikit sepi, salah satunya karna kelompok kami tidak lengkap, dua dari kami tidak hadir saat itu. Tak banyak yang kami bicarakan, mungkin bisa dibilang kami hanya bertukar no hp saat itu, agar komunikasi lebih lanjut dapat dilakukan lewat hp.
Bebrapa hari setelah pembagian kemlompok ini, pembina ekstra mengadakan sleksi kepada pengurus maupun anggota baru, untuk mengikuti lomba jurnalistik. Ddalam sleksi ini salah satu rubrik yang aku pilih adalah profil. Saat sleksi kami hanya diberi waktu 60 menit untuk mengerjakan profil, maka kami harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Aku berfikir tak ada waktu untuk berkeliling di sekolah yang kala itu sudah sore untuk menemukan seseorang yang kemudian bisa aku jadikan narasumber. Segerasa saja aku mengajak orang di sebelahku untuk kujadikan narasumber. Kebetulan ia juga mengikuti sleksi profil maka gampang saja kami saling bertukar utuk wawancara.
Kala itu banyak anak-anak yang mengikuti sleksi duduk-duduk di depan kelas ku. Hingga ketika aku mulai menulis, sepi dan kesunyian pun terasa. Ternyata tinggal aku dan dia di tempat itu. Suara angin yang mendesir dan kicauan burung yang merdu mengiringi ku menulis. Suasana senja dan langit yang mulai memerah di depan kami membuat suasana begitu nyaman. Sesekali dia menanyakan hal-hal yang kurang jelas untuk memnulis profil ku. Dan mungkin saat itulah aku mulai tertegun olehnya. Sesekali aku menepis perasaan itu, tapi semakin aku menepisnya semakin aku meyakininya. Tak pernah aku merasa seperti itu ketika aku bersama orang lain, merasa begitu nyaman dan bahagia.
Kording edisi pertama harus segera di selesaikan. Sayangnya, dia sakit dan kami hanya mengerjakan kording berempat. Aku menyampaikan info tentang pengerjaan kording kepadanya. Aku memberitaukan rubrik-rubrik yang harus dikerjakannya. Tapi ternyata komunikasi kami berlanjut hingga kami akrab. Hari demi hari kulalui, tanpa ku sadari aku dan dia semakin dekat. Pulang sekolah dia sering mencari ku kekelas, untuk internetan atau mengerjakan tugas ekstra. Ia mulai sering mengikuti ku jika aku ada kegiatan. Dan kamipun sering terlihat bersama. Hingga kami sering diganggu oleh teman-teman. Tapi aku tidak mau menilai hal ini berlebihan aku tau dia sudah ada yang punya.
Suatu ketika, aku mendapatkan informasi bahwa lomba debat tingkat SMA yang ku ikuti sejak SMP kini diadakan kembali. Aku memutuskan untuk kembali berpartisipasi. Saat itu aku baru mendapat satu orang yang mau maju dengan ku, dia juga dulu satu SMP dengan ku dan kini kami sama-sama ada diekstra jurnalistik. Aku sedikit bingung untuk memilih satu orang lagi yang bisa menjadi kelompok ku, akhirnya aku memutuskan mengajak dia untuk bergabung dan syukurnya dia bersedia.
Tak terasa, lomba debat itu telah tiba. Tak ada persiapan sedikitpun, kami hanya bermodalkan tekat dan kebranian. Hingga kami kagok ketika bertemu lawan yang memang sudah mantap dari taun ke taun. Kala itu aku sedikit bingung melihat tingkahnya, dan benar saja ada yang tidak beres dengan dia hari itu. Ia memberitaukan tantang kondisinya kala itu. Wajah tanpa ekspresi, kaget dan bingung seketika menrundungku. Kesedihanpun menyelimuti, air mata terasa tertahan di pelupuk mata. Tapi ia memintaku untuk merahasiakan ini dari siapapun. Sesungguhnya ada rasa tidak percaya, tapi itulah kenyataan.  Dan Aku memutuskan untuk mengalah dari lawan agar kelompok kami gugur dan kami bisa segera pulang.

Aku bingung kenapa dia mau memberitau hal itu kepada ku. Aku bingung, aku belum lama mengenalnya, tapi kenapa dia memberitaukan rahasianya kepadaku? Aku menyanyakan hal ini kepadanya dan sederhana saja ia menjawab. “aku percaya sepenuhnya sama kamu“ aku terkejut mendengar pernyataannya walaupun menyiratkan kebahagiaan di hatiku. Ia juga memintaku untuk memperlakukannya seperti biasa, seperti aku memperlakukannya sebelum aku mengetahui tentang kondisinya itu.
Walu sedikit berat aku menyanggupi permintaannya. Aku memperlakunnya seperti biasa walau terkadang aku sedikit posesif. Aku belum bisa menepis perasaanku. Sikapnya kepadaku membuatku semakin meyakini perasanku. Aku bingung, apakah dia merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan? Fikiran ku menepis itu, dia sudah ada yang punya sudahlah. Yah kebingungan dan kebimbangan kembali melanda. Sekali lagi aku memutuskan untuk biasa saja.
Sore itu, aku dan dia pergi ke pantai dekat rumah ku. Kami bermain disana, dia terlihat begitu bahagia. Aku senang  senyuman kembali terlihat di wajahnya. Aku baru menyadari ternyata aku dan dia memiliki hobi yang sama. Yaitu bermain di alam. Kami tidak begitu senang bermain di tempat keramaian seperti supermarket atau tempat keramaian lainnya. Alam menjadi pilihan kami karena kami menanggap alam dapat memberikan kesejukan dan kenyamanan. Sebelum pulang ia sempat berkata “kalau aku disuru pualng besok, aku ga akan nyesel, aku udah bahagia banget hari ini” aku sedikit kaget mendengarnya. Mengapa dia bisa begitu bahagia padahal aku dan dia hanya bermain di pantai saat itu. Fikiran ku mulai berjalan-jalan memikirkan banyak hal. Tapi skali lagi aku berusaha menepisnya.
Sekian lama kami lalui dengan kebersamaan dalam persahabatan. Yah walaupun aku membohongi perasaan ku dengan halus. aku merasa bahagia karna aku dan dia bisa saling berbagi. Semakin lama aku merasa dia juga merasakan hal yang sama, tapi lagi-lagi aku berusaha menepisnya. Hingga akhirnya hari itupun tiba. Hari dimana kami jujur dengan perasan masing-masing. ternyata dia juga merasakan hal yang sama. Aku terkejut dan bahagia.
Hari itu terasa begitu berbeda, semua yang berusaha aku tepis ternyata suatu kebenaran yang tidak perlu di tepis. Aku dan dia pun kini bersama, setelah ia memutuskan untuk menjalani semua hanya dengan ku. Ini tak hanya kebahagian bagi aku dan dia, tetapi juga kabar gembira bagi teman-teman di sekitar ku. Satu yang aku tak mengerti hinga sekarang, dan mungkin juga yang tidak ia mengerti hinga detik ini, kenapa aku dan dia bisa saling menyayangi. Tapi yang kami tau pasti aku nyaman dengannya begitu juga dia.
Takdir yang menuntunku berjalan ke tempat ini, membuatku bertemu dengannya. Suratan yang membawaku bergabung dengan keluarga baruku membuat ku menganalnya. Hari-hari yang kulalui kini menumbuhkan kebersamaan antara aku dan dia. Dan kini dia menjadi suatu kebanggan baru di hidupku dan semoga selalu begitu.



Kamis, 01 Juli 2010

BUKAN BERARTI MEMILIKI


Suka, cinta, sayang………!!!
Bukan berarti harus memliki
Tapi apa daya……?
Rasa ego terlanjur menguasai diri
Hingga cara apapun ditempuh
untuk mendapatkannya
tidak.. semua itu tak boleh dilakukan
karena hanya akan menimbulkan
satu penyesalan yang tak berguna
karena semua tlah pergi
pergi karena keegoisan kita sendiri



mungkin cuma semua ini yang bisa diucapkan oleh Radith seorang cowok yang pernah ngalamin semua itu.
Semuanya berawal saat Radith keterima disekolah barunya yang bisa dibilang sekolah terfaforit jadi ga sembarang orang bisa masuk di sekolah itu. Waktu pertama masuk sekolah radith ketemu ama seorang cewek yang secara fisik bisa dibilang perfect.
”Gila, cantik banget tu cewek” radith terheran.
”bener bro, tu cewek emang perfect” kata yuda menimpali ucapan radith.
”siapa ya namanya ?????” Radith bertanya-tanya.
”mana ku tau ????” jawab yuda.
Saat itu juga Radith udah punya niat buat bisa deket ma tu cewek.
Radith bener-bener ga nyangka karena dia bisa sekelas ama cewek yang ngebuat dia salting.
” dit, cewek tadi sekelas ma kita ...!!!” kata Yuda.
” beneran yud, tu cewek sekelas makita???”
” bener gua ga boong... sumpah dah!!!”
” wah, bagus dong, gua bisa pdkt nih ma dia!!!”
Sama sperti hari-hari pertama siswa baru mulai sekolah, selalu diadain perkenalan. Setiap siswa maju kedepan n’ memperkenalkan diri. Radith memng nanti saat-saat ini coz dia yakin dia bisa tau nama tu cewek.
Setelah tuju orang memperkenalkan diri tiba saatnya cewek itu memperknalkan diri.
” halo temen-temen, kenalin namaku Dea nama lengkapku Dea suryani”
Saat itu juga radith bergumam ” jadi namanya dea keren juga”
Sepulang sekolah radith berusaha mendekati Dea.
” hai Dea, lagi nungguin jemputan ya?”
” ya, kamu, Radith kan ?”
” ya aku radith.
” km nungguin jemputan juga?”
”ya, udah jam segini belum dijemput juga. Rumahmu dimana?”
” di jalah hasanudin, km...?
” berarti rumah kita searah dong, Rumah ku di jalan Wibisana...! kita jaln aja
Gimana?”
” Ayuk” jawab Dea dengan simpel.
Saat itu juga Radith bersorak dalam hatinya ” yes, yes, yes ”. diperjalanan radith berusaha mendekati Dea.
” km dulu SD nya dimana?” tanya radith.
” di SD nusa bangsa!” jawab dea dengan singkat.
Tanpa terasa Dea udah nyampek dirumahnya. Dea pamitan ama Radith buat pulang dan dengan berat hati radith mengijinkannaya. Setibanya dirumah, radith langsung nelepon yuda n’ nyeritain kalok dia pulang bareng ama dea.
” yud, lo tau ga betapa bahagianya gua bisa pulang bareng ama dea??? Tanya radith.
”emang seberapa bahagianya lo baru bisa ngajak dea pulang bareng ??? yuda terheran.
”gua tu bahagia banget, bahagianya udah kayak orang kejatuhan bulan !!!
”waduh, segitu bahagianya lo dith, baru bisa pulang bareng ama dea, jangan-jangan lo suka lagi ma dea!?!”
”iya kali ya, baru pulang bareng aja gua dah bahagianya mintak ampun, tapi ga papa kan yud, kalok gua suka ma dea???”
”ya ga papa lah dith, gua dukung lo kok, lagian dea cantik kok, yah... cocok lah ama tampang lo yang ganteng....!!!”
Tnx ya yud, bay....!!!
Kesokan harinya disekolah radith berusaha ngedeketin Dea dengan nawarin diri untuk jadi teman/sahabat dea, radith juga mengajak Yuda. dengan senang hati dea nerima Radith jadi sahabatnya. Dea juga ngenalin sahabat wanitanya ke radith dan yuda.
” hai, dith, yud, kenalin nih temen gua, namanya putri”
”hai put, gua yuda. Temennya dea”
”put, gua radith temennya dea juga”
Dalam hati yuda berfikir buat ngedeketin putri. Yuda nyeritain perasaannya ama Radith. Radith meresponya dengan positif. Dia juga ngedukung yuda buat ngedapetin putri. Radith ma yuda berusaha ngajak dea ama putri buat makan bareng, tanpa piker panjang dea ama putri nerima ajakan adith n’ yuda. Pulang sekolah mereka langsung ke tempat makan yang bisa dibilag cukup nyaman.
Disana mereka berbagi cerita tentang kepribadIan mereka masing-masing. Sehinga mereka bisa memahami satu sama lain. Mereka serig banget belajar bareng, ngerjain tugas bareng, curhat bareng, n’ masih banyak kegiatan lain yang mereka lakuin bareng-bareng.
Radith selau nunjukin sikap simpatai ama dea. Begitu juga ma yuda. Yuda selalu ada disamping putri, n’ nunjukin sikap simpatinya ma putri. Tapi dea n’ putri ga sadarkalok misalnya radith ma yuda suka ma mereka berdua.
Setelah persahabatan mereka berjalan cukup lama, yaitu sekitar 1 tahun. Radith dan yuda belum juga berani ngungkapin perasaan mereka ma pujaan hatinya. Dea dan putri udah nyaman banget dengan status mereka sekarang, yaitu sebagai sahabat.
Yuda berusaha buat ngumpulian keberanianya untuk ngungkapian perasaanya ma putri. Setelah yuda merasa siap, dia langsung nyarik putri n’ ngajak dia jnjian n’ ketemuan ditaman nanti sore jam 4. Tanpa pikir panjang putri nerima ajakan yuda.
Setelah pulang sekolah yuda mempersiapkan segala sesuatu. Mulai dari baju, bunga n’ kata-kata yang tepat buat ngungkapin perasaannya ke putri. Jam tangan yuda menunjukan pukul 3.30, itu artinya setengah jam lagi dia harus udah nyampek di taman. Yuda buru-buru ngambil kunci motor n’ langsung ke taman.
Disana putri udah nungguin yuda. Yuda langsung ngedeketin Putri N’ ngajak dia basabasi. Setelah sesat berbasa basi radith mulai menuju ke pokok pembicaraannya.
” Put, sebenernya......,sebenernya......., aku mau ngomong sesuatu ma kamu, boleh ga....? yuda gugup.
”aku, km..... kok lo ngomongnya jadi aku,kamu gitu cih????” Putri bertanya-tanya
”ya, soalnya aku mau ngomong sesuatu yang penting !!!!”
”Lo mau ngomong apa yud???
”put, km tau ga kenapa aku tu simpati banget ma kamu???
”yaiyalah lo tukan temen gua!!!
”bukan, bukan itu.... aku simpati ama kamu tu karena aku suka, sayang, n’ cinta ama km put. Dari pertama aku ngeliat kamu aku udah ngerasain ini semua. Apalagi setelah aku tau kalok km tu ga Cuma cantik aja, tapi km tu juga baik n’ pinter.”
”ta...ta...tapi yud, gua tu dah nyaman banget dengan status kita jadi sahabat kayak sekarang ini...!” jawab putri.
”ya...., aku ngerti put, tapi apa kamu ga mau ngebukak pintu hatimu buat aku????”
”ya..., aku mau tapi bukan sekarang, sekarang tu belum waktunya kita buat ngejalanin hubungan ini, kita tu belum cukup umur yud...” putri menolak.
”jadi km nolak aku Cuma karena kita belum cukup umur???
”iya yud, gua masih mau belajar tanpa diganggu ama hubungan kita nantik kalok misalnya gua neriama lo...., sory ya yud, soryy banget. Gua juga belum siap buat ngejalanin ini semua. Lebih baik kita jadi temen kayak dulu lagi. Lo ga marahkan yud, ma gua???
”ya engaklah....., kenapa gua mesti marah..., kmkan punya hak buat nolak atau nerima aku. Cinta kan juga ga boleh dipakasa. Tapi, sekarang aku lega karena aku udah ngungkapain perasaan aku ama km. Satu yang harus km inget. Kapanpun kamu mau nerima cintaku aku siap...!b
Yuda lalu kembali pulang dengan perasaan yang sedikit kecewa. Tapi dia tidak mau memaksa putri untuk menerima cintanya karena dia tau cinta tidak bisa dipaksakan.
Keesokan harinya yuda mampu bersikap biasa-biasa saja kepada putri dan teman-teman yang lain seakan ga ada kejadin kemarin. Putri kagum ma sikap yuda yang dewasa. Yuda takmenceritakn kejadian itu ma sapa-sapa termasuk radith. Setelah kejadian itu yuda bersikap semakin dewasa.
Jam istirahat radith ngajakin yuda kekantin, radith ngomonin rencananya buat nembak dea.Yuda Cuma ngasi saran keradith biar sip ditolak n’ siap diterima. Radith hanya berkata don’t wori coz dia dah yakin kalok dia tu pasti di terima. Jadi radih ga begitu nyiyapin mental buat ditolak. Disamping itu yuda dah cemas kalok misalnya radith ditolak coz radith dah yakin banget kalok dia bakal diterima
Pulang sekolah radith ngajakin dea pulang bareng, dea nerima ajakan radith. Diperjalanan radith langsung ngomong ama dea.
” deya, kalok misalnya ada yang nembk lo, lo bakal gimana? Radith memulai.
”mungkin gua bakal nolak!!!
”kenapa??? Tanya radith
”gua males aja..., apa lagi yang nembak gua jelek n’ ga dewasa gual langsung tolak dah!!!”
”tapi kalok orang yang nembak lo tu gua gimana???”
“alah lo tu ada-ada aja dith..., he...he...he...!!!”
“gua tu serius de, gua tu suka ama lo...!!!”
“lo tu kalok becanda emang paling bisa ya....!!!”
“dey, gua tu serius, dua rius malah...!!!"
“soryy dith, soryy banget gu belum siap masih banyak hal yang mesti gua lakuin, gua tu masih sekolah. Gua takut kalok misalnya gua jadian ma lo gua ga konsen lagi buat belajar.”
“gua yakin kalok kita jadian lo ga bakal keganggu n tetep bisa konsen belajar”
“ga dith gua ga mau”
“ok mungki n sekarang lo nolak gua tapi nanti lo bakal nerima gua key!!!”
“gabakal deh, gua ga bakal nerima lo, lagian gua gak bakal mati kalo nolak cinta lo” dea mulai kesal.
Radith kesel banget coz dia ditolak mentah-mentah ma dea. Radith nyeritain semuanya ke yuda.
”sial yud si dea nolak gue mentah-mentah” radith geram
“tukan, gua dah bilang ma lo kalok lotu mesti siap diterima n’ siap di tolak. Trus mau gimana sekarang?”
“gua bakal tetep ngejer dia n’ nembak dia nyampek gua diterima, gua ga bakal ngelepasin dia”
“jangan dith, mending lo biarin dia, jangan dikejar terus nantik dia malah marah ma lo???”
“ga, gua harus dapetin dia”radith kekeh.
“ok, dith gua Cuma mau ngasi tau lo kalok gua tu juga udah pernah ditolak ma putri, tapi gua ga mau ngejer-ngejer dia arena gua ga mau cinta yang dipaksa.”
“itu kan lo bukan gua!!!” tegas radith
“ok, yang penting gua udah ngingetin lo. Tapi kalok lo masih tetep ngejar-ngejar dia lo ga bakal pernah bisa ngedapetin dia!!!” yuda langsung pergi ninggalin radith yang egois.
Disaat yang bersamaan dea menceritakn kejadian itu kepada putri.
“put, kemaren gua ditembak ma radith”
“radith nembak lo....??? trus...???” putri tersentak.
“gua tolak aja dia, tapi dia bilang bakal terus ngejar gua ampek gua nerima dia!!!
“waktu ni yuda juga nembak gua, gua juga tolak dia sih, tapi dia ga ngejar ngejar gua kok, malah dia bisa bersikap dewasa, n’ nyentuh gue banget apalagi waktu dia bilang kalok cinta itu ga boleh dipaksain. Udah ngebuat gua ngebuka pintu hati gua buat dia. Tapi sekarang gua belum siap nerima dia. Tapi kelas 9 nanti gua bakal nerima dia karena gua yakinkalok yuda tu orang nya dewasa banget”
“radith ma yuda beda banget ya, walaupun mereka temenan mereka beda banget radith ga dewasa banget, masak baru gua tolak dia dah ngancem gua!!!
Bel masuk kelas bunyi yang motong pembicaraan dea ma putri.
Mulai saat itu dea ma radtih ga pernah akur coz radith ngejar-ngejar dea terus, dea ngerasa ga nyaman. Radith ga sadar kalok prilakunya itu udah ngebuat pintu hati dea semakin tertutup, dan memperkecil kemungkinan buat dia dapetin dea. coz dea ga mau pacaran ama cowok yang egois.
Namun semua yang dialamin dea beda banget sama yang dialamai putri. Putri malah nanti-nanti saat yang tepat buat nerima cintanya yuda. Yuda juga udah siap buat diterima maputri jadi hubungan mereka baik-baik aja.
Kemarahan dea memuncak saat kenaikan kelas dari kelas 8 kekelas 9. waktu itu radith nyegat dea didepan sekolah.
” de, lo masih mau nolak gua???”
“Apaan sih lo dith, brapakali harus gua bilang ke lo kalok gua tu ga bakal pernah nerima lo!!!” Dea mempertegas
“kenapa, kenapa lo selau nolak gua???” radith geram
“ gua nolak lo karena lo tu selalu ngejar-ngejar gua, lo juga terus maksa gua biar gua mau nerima lo. Asal lo tau, lo tu dah kayak anak kecil yang ga ada dewasa-dewasanya. Lo tu dah egois banget. Lo tau...., cinta tu ga bisa dipaksa. Semakin lo maksa semain jauh cinta itu. Mungkin kalok lo mau bersikap dewasa dari dulu, mungkin lambat laun gua bisa nerima lo. Tapi karena lo bersikap kayak anak kecil pintu hati gue tu dah ketutup rapet buat lo dan ga bakal bisa terbuka lagi buat, lo ngerti.....???”
“tapi de, gua ngelakuin semua itu karena gua tu sayang banget ma lo” radith memelas.
“kalok lo emang sayang ma gue lo tu ga mungkin tega ngejer-ngejer gue dan ngebuat gue ga nyaman” dea lalu pergi meninggalkan radith karena ia sudah di jemput.
Sehari setelah itu putri memberanikan diri buat ngungkapin perasaanya ke yuda. Jam istirahat putri ngajak yuda ke kantin. Dikantin putri ngungkapn perasaannya.
“ yud, lo....lo.... masih mau nerima guakan???”
“apa put,coba lo ulang sekali lagi!!!”
“lo masih mau nerima gua...yud???”
“gua ga salah dengerkan put???”
“ga yud, lo ga salah denger .....!!!
“tapi kenapa tiba-tiba lo mau nerima cinta gua???” yuda bingung
“setelah gua ngeliat sikap lo yang dewasa, pintu hati gua sedikitdemi -sedikit mulai terbuka. Gua baru sadar kalok lo tu emang cowok yang baik buat gua. Lo udah berhasil ngebuat gua kagum ama lo. Selama ini gua belum pernah ngeliat cowok kayak lo. Udah keren, dewasa pula. lo tu beda banget ama radith. Radith tu anaknya kayak anak kecil yang maunya harus diturutin. Tapi lo ga gitu, waktu gua nolak lo, lo ga marah ma gua n ga ngancem gua. Tapi lo malah ngehargain keputusan gua meski itu ngebuat lo sakit. Itu semua yang udah ngeluluhin hati gua yud. Jadi lo masih mau nerima gua???” putri menjelaskannya.
“ pasti put, meski km belum nerima aku cinta ku ke kamu ga berkurang sedikitpun. Apa lagi sekarang lo udah mau nerima gua cinta gua ke lo tu makin kuat”
Tiba-tiba radith datang dan gabung ama mereka berdua. Radith menanyakan apa yang mereka lakuin berdua n’ putri ngasi tau radith kalok mereka berdua tu udah jadian. Radith hanya bisa mengucapkan selamat.
“selamet ya yud lo dah bisa nge luluhin hatinya putri tanpa harus ngelakuin banyak hal. Sekarang gua sadar kalok semua yang dulu lo bilang ke gua tu bener. Cobak aja gua nurutin lo dea pasti sekarang dah jadin juga ma gua, kayak lo ma putri, tapi dia malah menjauh dari gua n ga mau deket-deket ma gua lagi” radith menyesal.
“ga papa dith, lo sabarya. Masih banyak cewek lain selain dea yang lebih pantes ma lo. Mungkin tuhan punya rencana lain buat lo. Lo juga masih bisa memerbaiki sikap lo ma cewek lain” yuda berusaha menyemangati radith
“lo bener yud, cewek tu ga Cuma dea, masih banyak cewek lain selain dea.tnx ya yud, lo emang sahabat gua yang paling baik”
Tee.....t, tee.....t, tee.....t, bel masuk kelas berbunyi. Mereka bertiga cepet-cepet masuk kelas. Dikelas radith dan dea tidak pernah menyapa, karena dea sudah terlanjur benci dengan radith. Tapi yuda ma putri tetep berusaha agar dea mau maafin radith. Setelah berulang-ulang kali yuda ma putri nyobak buat mintak kedea biar mau maafin radith, akhirnya dea mau maafin radith. Tapi tetep dia hanya mau hubungannya ma radith sebatas teman.
Dea nolak radit karna keegoisannya sendiri. Mau ga mau radit harus merelakan dea. Coz dia dah terlambat buat memperbaiki sikapnya ke dea. Tapi lain ma yuda n’ putri mereka jadi pasangan yang romantis karena saling ngerti n mampu bersikap dewasa.
Dua sahabat ini memang memiliki nasib yang bertolak belakang. Tapi mereka dapat kalin jadikan contoh jika kalian mengalami masalh yang kayak mereka. Inget ya....! keegoisaan tidak akan menimbulkan suatu keputusan yang baik, tapi berusahalah berfikir dewasa dan berfikir panjang agar mendapatkan keputusan yang bermutu dan menguntungkan bagi semua orang.........!!!!